Tulisan Dalam Rangka Memperingati Hari Diabetes Sedunia
Belakangan ini, ada sebuah film berjudul “Sore: Istri dari Masa Depan” yang banyak dibicarakan. Film ini, dengan nuansa sinematik yang tenang, menangkap kegelisahan seorang Wanita Bernama Sore yang sangat relevan. Kegelisahan dan kekhawatiran Sore terhadap kondisi kesehatan pasangannya, di mana ia duduk dan mulai merefleksikan pilihan-pilihan hidup pasangannya, kesehatannya yang mulai dipertanyakan, dan masa depan yang tak lagi terasa begitu jauh.
Film ini mengingatkan kami pada banyak percakapan yang kami lakukan dengan para klien kami. Banyak dari mereka adalah para pemimpin, manajer, dan profesional sukses yang telah mendedikasikan pagi hingga malam mereka untuk karier dan keluarga. Namun, dalam prosesnya, mereka sering kali mengabaikan pertanyaan yang mungkin dikhawatirkan oleh pasangan mereka: “Apakah ia sudah cukup menjaga aset terbesar keluarga kita— yaitu kesehatannya?”
Seringkali, kesehatan adalah hal yang kita anggap remeh, hingga ia mengirimkan sinyal. Dan sinyal yang tidak terasa namun paling berbahaya di era modern ini adalah diabetes.
Ada sebuah data yang selalu kami jadikan pengingat: sebuah studi kredibel menunjukkan bahwa hampir tiga perempat (73%) penyandang diabetes di Indonesia tidak terdiagnosis. Mereka merasa baik-baik saja. Mereka tetap memimpin rapat, mengejar target, dan menikmati kopi susu sore mereka, tanpa menyadari ada “musuh” yang bekerja dalam senyap—dan mungkin, ada “Sore” yang mengkhawatirkan mereka di rumah.
Inilah mengapa kami ingin berbagi pandangan. Artikel ini bukan instruksi. Ini adalah rangkuman dari apa yang kami pelajari, sebuah undangan untuk melihat kesehatan—khususnya diabetes—sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Kami menyebutnya konsep “Masa Depan Manis”. Sebuah masa depan di mana kita dapat menikmati hasil kerja keras kita dengan tubuh yang sehat, bersama keluarga tercinta.
Memahami si ‘Musuh’
Sebelum kita bicara solusi, kami merasa perlu memahami musuhnya. Di dunia medis, kami belajar bahwa Diabetes Tipe 2 bukanlah kondisi “on/off” yang terjadi dalam semalam. Ini adalah sebuah spektrum, sebuah proses yang memakan waktu bertahun-tahun.
Sederhananya, bayangkan insulin sebagai “kunci” yang bertugas membuka pintu sel agar gula (energi) bisa masuk. Resistensi Insulin adalah kondisi di mana “kunci” itu mulai berkarat dan “lubang kunci” di sel tidak lagi merespons dengan baik. Akibatnya? Gula yang seharusnya menjadi energi untuk sel-sel kita, akhirnya malah menumpuk di aliran darah.
Bagi kita yang hidup di perkotaan, gaya hidup modern—jam kerja panjang, duduk berjam-jam di depan laptop, dan pola makan yang serba “praktis”—secara ilmiah menciptakan kondisi sempurna bagi “kunci” itu untuk mulai berkarat.
Jauh sebelum seseorang divonis Diabetes Tipe 2, ada fase “lampu kuning” yang panjang yang disebut Prediabetes. Ini adalah titik di mana kadar gula darah sudah di atas normal, tapi belum cukup tinggi untuk disebut diabetes. Kami melihat prediabetes sebagai sebuah ‘persimpangan metabolik’. Ini adalah peringatan terakhir dari tubuh. Kabar baiknya? Sains modern sepakat: prediabetes 100% reversible (dapat dibalikkan) dengan intervensi gaya hidup yang tepat.
Masalahnya, sama seperti kekhawatiran “Sore” di film itu, masalah terbesar seringkali adalah yang tidak terlihat gejalanya. Prediabetes bekerja dalam senyap, seringkali datang bersama “klaster bahaya” lain yang disebut Sindrom Metabolik—kumpulan kondisi yang mencakup lingkar pinggang besar, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tidak sehat, yang semuanya saling memperburuk risiko.
Langkah 1 – Memetakan Peta Risiko Personal
Prinsip kami sederhana: Kita tidak bisa mengelola apa yang tidak terukur. Seorang CEO tidak akan mengambil keputusan tanpa data. Begitu pula dengan kesehatan. Langkah logis pertama adalah memetakan risiko.
Riset kesehatan membaginya menjadi dua:
Faktor Non-Modifiable
Ini adalah “kartu yang tidak bisa dihindari” yang dibagikan kepada kita.
- Genetik: Riwayat diabetes di keluarga (orang tua, saudara kandung) adalah faktor risiko signifikan.
- Usia: Risiko secara alami meningkat setelah usia 45 tahun
Kita tidak bisa mengubah faktor ini. Namun, kami melihatnya bukan sebagai “vonis”, melainkan sebagai “panggilan” untuk lebih waspada dan proaktif.
Faktor Modifiable (Area Intervensi Strategis Anda)
Di sinilah peran kita lebih dituntut. Ini adalah faktor-faktor yang bisa kita kendalikan.
- Berat Badan Berlebih: Khususnya, lingkar pinggang.
- Pola Makan: Konsumsi tinggi gula tambahan, minuman manis, dan karbohidrat olahan.
- Inaktivitas Fisik: Bukan hanya “kurang olahraga”, tapi “terlalu banyak duduk”.
- Data Klinis Lainnya: Tekanan darah dan profil kolesterol
Fokus Khusus: Bahaya Lemak Viseral (Perut Buncit)
Kami ingin menggarisbawahi satu hal: lingkar pinggang seringkali merupakan data yang jauh lebih penting daripada sekadar angka di timbangan (Indeks Massa Tubuh/BMI).
Mengapa? Karena lemak di area perut (disebut lemak viseral) bukanlah “bantalan” pasif. Secara biokimia, ilmu pengetahuan modern melihatnya sebagai organ endokrin yang aktif. Ia memompa keluar zat-zat (adipokin) yang secara langsung memicu peradangan sistemik dan memperburuk resistensi insulin.
Batas aman lingkar pinggang untuk pria Asia (termasuk Indonesia) adalah di bawah 90 cm. Mengukur lingkar pinggang Anda adalah cara termudah dan tercepat untuk memetakan risiko metabolik Anda.
Kumpulkan Data Awal Anda dalam 5 Menit
Penasaran di mana posisi Anda? Cek Resikomu disini
Mulai Asesmen “Cek Resikomu” Di SiniLangkah 2 – Cerdik Mengelola Asupan (Bukan ‘Berhenti’)
Kami percaya “diet” itu berarti mengelola “asupan secara cerdas”. Bagi seorang profesional sibuk, kuncinya adalah efisiensi dan sustainable swaps.
Indeks vs. Beban Glikemik
Audiens kami yang cerdas sering menghargai data. Singkatnya, Indeks Glikemik (GI) mengukur seberapa cepat makanan menaikkan gula darah. Beban Glikemik (GL) adalah data yang lebih strategis, karena mengukur dampak total = Kecepatan (GI) x Kuantitas (Porsi).
Apa artinya? Anda tidak perlu “perang” melawan nasi putih (yang ber-GI tinggi). Anda hanya perlu mengelola porsinya untuk menjaga Beban Glikemik (GL) total makanan Anda tetap rendah.

Strategi “Isi Piringku” untuk Makan Siang Bisnis
Kementerian Kesehatan mempromosikan “Isi Piringku”. Mari kita terapkan untuk situasi rapat atau makan siang bisnis:
- Mulai dengan Serat (Setengah Piring): Mulailah makan dengan memesan atau mengambil salad/sayuran (lalapan, capcai, tumis sayur) terlebih dahulu. Serat terbukti memperlambat penyerapan gula ke aliran darah.
- Prioritaskan Protein (Seperempat Piring): Pastikan ada protein berkualitas (ikan, ayam dada, tahu, tempe, telur). Protein adalah kunci untuk rasa kenyang yang lebih lama.
- Kelola Karbohidrat (Seperempat Piring): Di sinilah kita “mengelola” GL. Ambil porsi nasi setengah dari porsi biasa.
Menjadi Detektif Gula Tersembunyi
Inilah area yang sering kami lihat “menjebak” banyak profesional. Kita mungkin sudah mengurangi gula di kopi, tapi tidak sadar bahwa gula tersembunyi berlimpah di:
- Kecap Manis: Bahan pokok masakan kita, kandungan gulanya sangat tinggi.
- Saus Botolan: Saus sambal, saus tomat, saus teriyaki.
- Minuman “Sehat”: Jus buah kemasan (seratnya hilang, gulanya terkonsentrasi).
- Kopi Susu “Kekinian”: Seringkali menggunakan sirup gula yang takarannya berlebih.
membaca label nutrisi adalah keterampilan baru yang sangat berharga di era modern.
Langkah 3 – Bergerak ‘Cerdas’ Tanpa ‘Olahraga’ (Konsep NEAT)

Ini mungkin sharing favorit kami untuk dibagikan kepada para klien yang sangat sibuk. Kita semua tahu harus olahraga, tapi waktu seringkali menjadi kemewahan.
Sains modern menawarkan alternatif solusi yang yang terintegrasi: NEAT (Non-Exercise Activity Thermogenesis).
NEAT adalah energi yang kita bakar untuk semua aktivitas di luar tidur, makan, atau olahraga “resmi” (seperti pergi ke gym). Ini adalah “gerakan mikro” yang kita cicil sepanjang hari. Mengapa ini sangat penting? Karena penelitian menunjukkan bahwa dampak buruk dari duduk diam berjam-jam (di mobil, meja kerja, ruang rapat) tidak bisa sepenuhnya dihapus hanya dengan olahraga 1 jam di gym. Duduk terlalu lama akan “mematikan” enzim-enzim metabolik di otot kita.
Mengintegrasikan NEAT ke Jadwal Rapat Anda
Bagaimana seorang manajer menerapkan NEAT?
- The Walking Call: Lakukan semua panggilan telepon (yang tidak butuh melihat layar) sambil berdiri dan berjalan mondar-mandir di ruangan Anda.
- The Staircase Strategy: Rapat di lantai 3? Gunakan tangga. Punya waktu 5 menit sebelum meeting berikutnya? Jalan naik-turun tangga 2 lantai. Ini cara tercepat mengaktifkan otot kaki, otot terbesar di tubuh kita.
- Parkir Strategis: Sengaja parkir yang jauh dari lobi kantor.
- Rapat Berdiri: Untuk rapat internal cepat (15 menit), usulkan untuk melakukannya sambil berdiri. Kami jamin rapatnya akan lebih efisien dan tidak bertele-tele.
Kami percaya ini adalah strategi paling realistis. Tujuannya bukan “berkeringat”, tapi “terus bergerak”.
Langkah 4 – Mengelola Kortisol (Beban Pikiran)
Jika ada satu faktor yang paling relevan bagi seorang manajer di kota besar, inilah dia. Kita semua tahu stres adalah bagian dari pekerjaan. Tapi yang sering kami tekankan adalah dampak biologisnya yang terukur.
Saat Anda menghadapi deadline atau rapat penting, tubuh Anda melepaskan hormon stres, terutama kortisol. Kortisol dirancang untuk memberi Anda energi instan dengan cara memerintahkan hati Anda untuk melepaskan cadangan gula (glukosa) ke aliran darah.
Inilah masalah modernnya: Di zaman purba, kita akan memakai energi itu untuk lari. Di dunia modern, kita memakainya untuk… duduk diam di ruang rapat dengan tegang. Hasilnya? Gula darah melonjak, tapi tidak terpakai oleh otot.
Hormon yang sama ini juga memicu “ngidam” makanan tinggi gula dan lemak (comfort food) dan mengganggu kualitas tidur. Ini adalah “lingkaran setan” yang sempurna: stres memicu gula darah tinggi, yang memicu “ngidam”, yang diperparah oleh kurang tidur.
Manajemen stres bukan lagi “nice-to-have”. Ini adalah kebutuhan biologis.
- Teknik Napas ‘Box Breathing’: Ini adalah alat reset 2 menit. Lakukan sebelum masuk rapat penting. Tarik napas 4 hitungan, tahan 4 hitungan, hembuskan 4 hitungan, tahan 4 hitungan. Ulangi 5-10 kali. Ini secara instan menenangkan sistem saraf.
- Prioritaskan Tidur: Anggap tidur sebagai alat performa, sama pentingnya dengan laptop Anda. Tidur berkualitas 7-8 jam adalah salah satu “obat” resistensi insulin terbaik dan gratis.
Langkah 5 – Lakukan Deteksi Dini
Sekarang, mari kita kembali ke data yang paling meresahkan di awal: 73% penyandang diabetes di Indonesia tidak terdiagnosis.
Ini adalah inti masalahnya. Ini adalah sumber kegelisahan “Sore” di film itu. Kita tidak bisa memperbaiki apa yang tidak kita ketahui. dan mengandalkan “rasa” sehat. Kita perlu data objektif.
Data Taktis vs. Data Strategis: GDP vs. HbA1c
Banyak dari kita saat medical check-up (MCU) hanya memeriksa Gula Darah Puasa (GDP). Ini adalah data yang bagus, tapi kami melihatnya sebagai data taktis atau snapshot. GDP hanya menunjukkan gula darah Anda pada satu titik waktu pagi itu. Jika malam sebelumnya Anda kebetulan makan malam sehat, hasilnya bisa “bagus palsu”.
Data yang jauh lebih superior, yang kami anggap sebagai “data emas” atau data strategis, adalah HbA1c (Hemoglobin A1c).
- Apa itu HbA1c? Tes darah ini mengukur persentase sel darah merah Anda yang “dilapisi” oleh gula.
- Mengapa Superior? Sel darah merah memiliki siklus hidup sekitar 2-3 bulan. Jadi, tes HbA1c memberi Anda gambaran rata-rata gula darah Anda selama 3 bulan terakhir.
HbA1c tidak bisa “dibohongi” dengan puasa semalam. Ia tidak berbohong. Ia menceritakan gambaran yang sesungguhnya. Inilah data yang dibutuhkan untuk deteksi dini prediabetes.
Hambatan Psikologis: “Bagaimana Jika Ketemu Sesuatu?”
Dari pengalaman kami selama bertahun-tahun, banyak profesional menunda MCU bukan karena tidak ada waktu atau biaya MCU-nya. Hambatan terbesarnya adalah psikologis: “Bagaimana jika ada sesuatu yang ditemukan?”
Ini adalah ketakutan akan konsekuensi finansial dan gaya hidup dari sebuah diagnosis. Ketakutan inilah yang membuat orang lebih memilih untuk “tidak tahu”.
Peran Strategis Asuransi Kesehatan Keluarga
Di sinilah kami di Amica Sukses Mandiri ingin memposisikan peran asuransi kesehatan keluarga secara berbeda.
Selama ini, asuransi sering dilihat sebagai “jaring pengaman” untuk musibah. Sebuah alat reaktif. Kami melihatnya secara berbeda. Di era medis modern, asuransi yang tepat adalah “kunci akses”. Sebuah alat proaktif.
Seperti yang kami bahas di artikel lain tentang kanker paru dan imunoterapi, kemajuan sains medis (seperti tes HbA1c, terapi target, imunoterapi) sangatlah pesat. Namun, kemajuan ini seringkali datang dengan biaya yang tidak sedikit.
Memiliki polis asuransi kesehatan keluarga yang komprehensif adalah enabler Anda.
- Ia menghilangkan hambatan finansial untuk melakukan deteksi dini.
- Ia menghilangkan ketakutan psikologis (“Bagaimana jika ketemu sesuatu?”), karena Anda tahu Anda ter-cover.
- Ia memberi Anda ketenangan pikiran untuk melakukan tes HbA1c setiap tahun, untuk berkonsultasi dengan spesialis gizi, atau untuk melakukan MCU lengkap, karena Anda tahu itu adalah bagian dari strategi kesehatan Anda, bukan biaya tak terduga.
Ini adalah investasi untuk mendapatkan data, sehingga Anda bisa mengambil langkah strategis jauh sebelum “lampu kuning” prediabetes berubah menjadi “lampu merah” diabetes.
Kesimpulan: Memilih “Masa Depan Manis” Anda
“Masa Depan Manis” Anda dan keluarga bukanlah soal keberuntungan. Kami percaya, itu adalah hasil dari serangkaian keputusan strategis kecil yang Anda ambil setiap hari—sama seperti cara Anda memimpin tim atau mengelola portofolio.
Lima langkah ini—memetakan risiko, mengelola asupan, mengintegrasikan NEAT, mengelola kortisol, dan melakukan deteksi dini—adalah kerangka kerja strategis Anda.
Perjalanan ini tidak perlu Anda atau pasangan Anda lalui dengan khawatir. Di Amica Sukses Mandiri, kami siap menjadi mitra diskusi Anda, membantu Anda menyusun strategi proteksi kesehatan yang paling relevan untuk Anda dan orang-orang yang Anda cintai.
Siap Mendiskusikan Strategi Proteksi untuk “Masa Depan Manis” Anda?
Sumber Referensi
- International Diabetes Federation (IDF). (2021). IDF Diabetes Atlas (10th Edition). Brussels, Belgium: International Diabetes Federation.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). (2018). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
- World Health Organization (WHO). (2022). Global Report on Diabetes. Geneva: World Health Organization.
- American Diabetes Association (ADA). (2024). Standards of Care in Diabetes – 2024. Diabetes Care, 47(Supplement 1).
- Harvard T.H. Chan School of Public Health. The Nutrition Source: Glycemic Index (GI) and Glycemic Load (GL).
- Mayo Clinic. What is NEAT (Non-Exercise Activity Thermogenesis) and how can it help me lose weight?
- Harvard Health Publishing. (2021). Visceral fat: The invisible fat you need to know about.
- The Sleep Foundation. (2023). Sleep, Cortisol, and Your Health.
- Alberti, K. G. M. M., et al. (2009). Harmonizing the Metabolic Syndrome: A Joint Interim Statement. Circulation, 120(16).